Jangan Ada Kusta Diantara KIta! Yuk Kenali Kusta : Mari Bersama Hapuskan Stigma dan Diskriminasi Kusta
Setiap tanggal 31 Januari merupakan peringatan hari kusta sedunia, dimana pada tahun 2022 tema yang diangkat yaitu "Mari Bersama Hapuskan Stigma dan Diskriminasi Kusta"
Mari Cari Tahu, Apa itu Kusta ?
Penyakit
Kusta atau Lepra merupakan penyakit infeksi dan
menular ditandai dengan syaraf tepi menjadi mati rasa, gangguan pada kulit
dapat berupa bercak kemerahan maupun putih, kelumpuhan pada tungkai dan kaki,
menyerang sistem pernapasan atas, kerusakan mata dan membran selaput lendir. Penyakit Kusta merupakan salah satu dari 17 penyakit tropis yang masih terabaikan dengan
angka kejadiannya
yang masih tinggi (World Health Organization (WHO).
Kusta disebabkan
oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini tumbuh pesat pada bagian tubuh yang bersuhu lebih
dingin seperti tangan, wajah, kaki, dan lutut. M. leprae termasuk jenis
bakteri yang hanya bisa berkembang di dalam beberapa sel manusia dan hewan
tertentu (Siswanto dkk, 2020) .
Penemuan penyebab penyakit Kusta oleh Dr Gerhard Armauer Henrik Hansen dari Norwegia tahun 1873, yang merupakan orang pertama yang melakukan penelitian dan mengidentifikasi kuman yang menyebabkan penyakit kusta menggunakan mikroskop (Siswanto dkk, 2020) .
Sebelum ditemukan pada tahun 1873, penyakit ini sangat
erat dengan stigma negatif, yaitu suatu hukuman atau kutukan yang diberikan kepada penderita karena dosa atau kesalahan yang diperbuat oleh orang tersebut. Dampak stigma tersebut berlanjut hingga saat ini, sehingga penderita seringkali mengalami diskriminasi dan dikucilkan dari kehidupan sosial (Siswanto dkk, 2020).
Masalah-masalah
tersebut karena adanya stigma yang menakutkan, cerita dari penderita kusta yang dijauhi sebagai
orang buangan mengakibatkan penderita Kusta menjadi tuna sosial,
tuna wisma, tuna karya dan ada kemungkinan mengarah untuk melakukan
kejahatan atau gangguan di lingkungan masyarakat. sebagian besar,
penderita kusta berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah,
sehingga perhatian keseharian hanya tertuju tentang bagaimana cara
menghidupi keluarga dan lebih memfokuskan diri untuk mencari nafkah
daripada perawatan terhadap penyakit Kusta, luka atau kecacatannya (Siswanto dkk, 2020).
Sumber penularan
penyakit Kusta melalui Bakteri yang jenisnya sama dengan bakteri TBC. Penyakit Kusta dapat ditularkan melalui kontak antara
penderita penyakit Kusta karier dengan orang yang rentan. Cara penularan
bakteri ini diduga melalui cairan dari hidung yang biasanya menyebar ke udara ketika penderita batuk
atau bersin, dan dihirup oleh orang lain. Dalam kebanyakan kasus,
bakteri tersebut tersebar melalui kontak jangka panjang antara orang yang
rentan dengan seseorang yang memiliki penyakit Kusta tapi belum diobati (Siswanto dkk, 2020)
Pencegahan penyakit kusta dapat
dilakukan seperti edukasi ke masyarakat tentang penyakit kusta, perilaku selalu mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir setelah beraktivitas, telah
mendapatkan imunisasi BCG, selalu menjaga posisi 45 derajat saat berbicara dengan penderita
Kusta, menggunakan masker saat berinteraksi dengan penderita Kusta, kondisi
fisik rumah memenuhi syarat kesehatan dengan ventilasi, pencahayaan,
kebersihan, kelembaban dalam katagori normal / sehat serta lakukanlah segera
pengobatan jika sudah muncul tanda dan gejala kusta dengan mengonsumsi obat Multi
Drug Therapy yang dianjurkan dokter selama 6-12 bulan pengobatan secara rutin yang
dapat diambil dipuskesmas sehingga penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa cacat
bila berobat secara dini dan teratur (Siswanto dkk, 2020) .
Jadi penderita kusta tidak perlu didiskriminasi dan hapuskan stigma negatif penderita kusta, karena penyakit ini dapat dicegah dan diobati serta bukan disebabkan karena guna guna, kutukan, keturunan, dosa dan makanan tertentu. Sehingga dapat menyebabkan penderita kusta mengalami keterlambatan dalam pengobatan yang bisa berakibat pada kecacatan (Siswanto dkk, 2020)
Sumber :
Siswanto, dkk. 2020. Neglected Tropical Disease Kusta Epidemiologi Aplikatif. Samarinda : Mulawarman University Press.
Sumber : UPTD Puskesmas Jatijajar