RESPON ANTIBODY VAKSIN COVID-19, RIWAYAT PAPARAN HARUS DIPERHATIKAN!
Respon antibodi merupakan suatu
efektivitas yang ditimbulkan dari kegiatan vaksinasi. Benda asing atau biasa
disebut antigen ini termasuk berbagai macam mikroorganisme yang berbeda
termasuk virus, bakteri, parasit dan jamur yang dapat menyebabkan masalah
serius pada kesehatan organisme host jika tidak dibersihkan dari tubuh (1). Tubuh dianggap merespon
Antibodi SARS-CoV jika hasil Anti SARS-CoV-2>= 0.8 IU/ml dinyatakan hasil
reaktif, dan jika hasil < 0.8 IU/ml dinyatakan non reaktif, dimana semakin
tinggi nilai titernya antibodi yang terbentuk semakin banyak dan perlindungan
tubuh semakin baik (2).
Riwayat
terpapar pada penelitian ini memiliki hubungan yang signifikan terhadap respon antibody
pasien vaksinasi. Pasien yang memiliki riwayat terpapar akan menjadi kurang
reaktif terhadap vaksin, biasanya kasus ini berlangsung selama 3-5 bulan (3).
P2PTM Kementerian Kesehatan RI menjelaskan jika seseorang yang memiliki riwayat
terpapar Covid-19 biasanya mempunyai respon kekebalan dan mengembangkan
proteksi terhadap Covid-19, sistem kekebalan tubuh dapat membentuk antibodi dan
mengenali virus yang masuk ke dalam tubuh yang disengaja maupun tidak
disengaja, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki riwayat terpapar
dengan rentang waktu 3 bulan terakhir akan menjadi kurang reaktif terhadap
SARS-CoV-2 karena sebelumnya sistem kekebalan tubuh orang tersebut sudah
mengenal virus Covid-19 (4).
Individu yang pernah terpapar
infeksi Covid-19 dapat disebut juga sebagai penyintas Covid. Penyintas Covid
ini dengan respon imun alami telah memiliki antibodi alami Covid 19 yaitu Anti
SARS-CoV-2. Penyintas Covid dapat menerima vaksin Covid setelah 3 bulan
dinyatakan sembuh oleh dokter karena
memori kekebalan tubuhnya kembali seperti semula dan merespon virus sebagai
benda asing dan juga berdasarkan rekomendasi ITAGI untuk penyintas Covid-19
vaksinasi diberikan dengan jarak 3 bulan setelah sembuh (5)(6). Pada
subyek yang dengan riwayat terkonfirmasi Covid-19 dan telah melakukan vaksinasi
dapat terjadi hybrid immunity yaitu terjadi kombinasi imunitas yang
didapat alami dari infeksi alami dan vaksinasi, di mana respon antibodinya
lebih tinggi, dimana secara teori individu dengan hybrid immunity
memiliki risiko yang lebih rendah untuk terinfeksi Kembali. Namun demikian hybrid
immunity juga memiliki risiko tertular karena karakter mutasi virus yang
sulit diketahui dan kita tidak tahu kondisi sebenarnya antibodi dan sel-sel
dalam tubuh kita.(7)
untuk itu hal ini juga yang mungkin menyebabkan pada penelitian ini subyek
dengan riwayat terpapar dan setelah vaksinasi kemungkinan mempunyai respon Anti
SARS-CoV-2 yang lebih rendah.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Dunders G.
Respon Imun dalam Mikrobiologi. Amerika Serikat: Cambridg Stanford Books; 2015.
2. Higgins V,
Fabros A, Kulasingam V. Quantitative Measurement of Anti-SARS-CoV-2 Antibodies:
Analytical and Clinical Evaluation. J Clin Microbiol. 2020;59(4):128–34.
3. McDade TW,
Demonbreun AR, Sancilio A, Mustanski B, D’Aquila RT, McNally EM. Durability of
antibody response to vaccination and surrogate neutralization of emerging
variants based on SARS-CoV-2 exposure history. Sci Rep [Internet]. 2021;11(1):1–6.
Available from: https://doi.org/10.1038/s41598-021-96879-3
4. P2PTM Kemenkes
RI. Antibodi dan Kekebalan Corona Bisa Hilang Setelah Pasien Sembuh [Internet].
Kementerian Kesehatan RI. 2020 [cited 2023 Jan 12]. Available from:
https://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-ilmiah/antibodi-dan-kekebalan-corona-bisa-hilang-setelah-pasien-sembuh
5. Widyawati.
Penyitas Bisa Divaksin Covid-19 Setelah 1 Bulan Sembuh. Sehat Negeriku. 2021.
6. Weni KC.
Vaksin untuk Penyintas Covid 19, Perlu Atau Tidak? Kawal Covid-19. 2021.
7. Rezkisari I.
Pakar Terangkan Fenomena Hybrid Immunity Saat Hadapi Covid-19 [Internet]. Republika.
2022 [cited 2023 Mar 3]. Available from:
https://ameera.republika.co.id/berita/r644rp328/pakar-terangkan-fenomena-hybrid-immunity-saat-hadapi-covid19
Sumber : UPTD Puskesmas Pengasinan